Tahun 2009, di sebuah negeri bernama Nusantara, berkendara seorang Pahlawan Ayam bersama seorang ajudan dan dua orang temannya menuju desa Tassese. Dua orang temannya adalah Peri Pengetahuan yang bertugas menyampaikan pesan kepada anak-anak di desa Tassese, bahwa akan hadir serombongan Guru. Kelak Guru-guru itu akan menghilangkan keresahan anak-anak yang sulit memahami pelajaran di sekolahnya. Beberapa tahun terakhir, di desa Tassese sangat kesulitan memperoleh guru yang dipercaya akan menyelamatkan mereka dari monster yang bernama “Standar Kelulusan Penguasa”.
Sebenarnya tidak sedang meninggikan jenis kelamin laki-laki karena menyebutnya sebagai pahlawan, hanya saja istilah “pahlawan” sudah terlanjur identik dengan laki-laki yang membawa senjata. Tapi, pahlawan dalam cerita ini, tidak seperti pahlawan di buku-buku sejarah anak-anak Orde Baru – sedang meminjam istilahnya Mas Putut EA sebenarnya – tetapi istilah yang muncul dari pemberontakan atas sakralisme istilah “Pahlawan”. Pahlawan Ayam dengan rambut halus terurai seperti berusaha menyelipkan mata bola Pahlawan. Untuk laki-laki seumurannya, Pahlawan Ayam bertubuh tegap dan berisi, dengan sedikit lekukan otot di beberapa bagian. Karena begitu menyukai sepak bola, otot betis dan paha sang pahlawan lebih dominan jika dibandingkan dengan otot yang lain. Jika coba menjelajahi bentuk fisik lain dengan mata manusia yang serba kekurangan, punggung Pahlawan cukup lebar saat dia berdiri, sebanding dengan bidang dada yang luas. Buah kecut bernama Mangga, tidak mampu membuat wajah Pahlawan Ayam terserut kecut saat dia melahapnya. Mangga kecut ini yang kelak akan membuat Pahlawan duduk semeja dengan Peri Pengetahuan, untuk bersama menikmati kasarnya permukaan lidah dan kenikmatan rasa.
Kurang lebih 40 kilometer perjalanan menuju desa Tassese, menawarkan dualisme alam, yakni alam yang indah dan alam yang menyiksa. Setengah dari perjalanan Pahlawan Ayam hari itu adalah ekspresi kerusakan alam. Pahlawan harus bertempur melawan debu dan pasir yang terus menabrak wajahnya. Udara segar terkalahkan dengan asap yang berebut keluar dari pembuangan asap kendaraan pembawa batu dan pasir gunung. Setengah perjalanan akhir, udara pegunungan yang asri baru terasa. Udara terus membisikkan kepada Pahlawan Ayam dengan sebuah kalimat, “Selamat Datang di Negeri Tersisih, Karena Kami Hanya Sedikit Risih, dan Izinkan kami Menyekah Kotoran di Pipi”. Dengan lembut Pahlawan Ayam membuka penutup wajahnya dan menarik dalam-dalam udara untuk mengizinkannya menyentuh organ tervital bersama darahnya. Mata Pahlawan Ayam terus seirama bersama kedua Perinya, mengikuti tiap kelokan jalan yang rumit. Tangan pun mengikuti perintah mata, kapan harus mebelok ke kiri atau ke kanan. Jari-jari Pahlawan Ayam dengan lembut memeluk setir kendaraan dan melaju menyusuri desa Tassese.
Sepertinya sang Pahlawan begitu populis di kalangan warga – bahkan saat Pahlawan belum mengetahuinya – hingga hampir semua orang di desa itu menanyakan, “Oh, ini dia peri pengetahuan, yang akan membawa penghilang resah untuk anak-anak kami?” wajah Peri-peri memerah, begitu juga Pahlawan Ayam seiring mereka mempercepat laju kendaraan karena malu.
***
Kerajaan anak-anak itu adalah sehamparan tanah luas dengan karpet hijau tempat bermainnya. Di sisi belakang kerajaan terdapat bukit yang jika kita mendakinya akan nampak desa seberang. Jika dibandingkan dengan desa Tassese, desa seberang lebih maju. Di desa seberang lebih diminati bagi penikmat alam untuk mengunjunginya. Di desa seberang juga terdapat sebuah kerajaan yang memiliki guru-guru lebih banyak, sehingga anak-anak di sana tidak pernah lagi mengenal keresahan di hidupnya. Sangat berbeda dengan desa Tassese yang merindukan Guru.
Hari ini hanya ada dua Peri Pengetahuan yang ikut bersama Pahlawan Ayam dan seorang ajudan yang kerap membawa pusaka pelindung dingin, Minyak Kayu Putih. Sebelum aku ceritakan tentang peri pengetahuan dan Guru-guru yang kelak akan dibawa oleh Pahlawan Ayam, aku ingin mengenalkan terlebih dahulu ajudannya. Seorang laki-laki bertubuh mungil dengan berat 40 kilogram yang setia menjadi teman kebanggaan bagi Pahlawan Ayam, terutama dalam ekspedisi di desa Tassese ini. Jika melihat adjudan Pahlawan Ayam, ukuran kepalanya cukup besar – walaupun tidak ada hubungan antara kecerdasan dengan ukuran otak yang besar dalam kasus lain – berisikan banyak sel-sel otak luar biasa. Kecerdasan yang dimilikinya, mengharuskan tukar pendapat bersama Pahlawan Ayam berlangsung panjang. Dengan Jupiter warna biru tua tajamnya yang nampak indah sebelum menggunakan kaca spion, tunggangan itu kerap mendapat pujian dari pemilik. Tubuh kecilnya telah mengisyaratkan pada ajudan untuk menggunakan pakaian yang seukuran dengan tubuhnya, hingga nampak tipis tanpa ada lagi lekukan otot. Itu saja tentang ajudan, selebihnya akan lebih menarik mengenalnya dari ekspedisi Tassese ini (istilah “ekspedisi” dipinjam dari “28”).
Seperti yang diceritan di awal, ada dua Peri Pengetahuan yang menyertai Pahlawan Ayam. Aku ceritakan dulu yang pertama. Sebenarnya berat mengenalkan Peri Pertama dari tampakan fisik, karena dia begitu khas dan bisa langsung dikenali, dengan kata kunci tinggi badan. Peri Pertama dulu juga adalah seorang guru sehari bagi Pahlawan Ayam yang sama gelisahnya dengan anak-anak Tassese. Kini mereka berdua bersama-sama harus mengerjakan tugas sosial. Dengan kacamata yang digunakannya, Peri Pertama terlihat lembut dan ramah, sebaliknya Peri Pertama akan nampak mengerikan jika melepaskannya. Apakah karena tidak terbiasa melihatnya seperti itu, atau mata lelahnya menampakkan keseriusan berfikir. Tapi untunglah ada Pahlawan Ayam dan Ajudan yang kerap bergurau untuk menghibur Peri-peri Pengetahuan.
Peri Kedua adalah tokoh baru dalam hidup Pahlawan Ayam. Di adalah kerabat dari Peri Pertama. Peri Kedua ini kini begitu identik dengan binatang Ayam. Dia begitu trauma dengan binatang ini, mendekati Ayam saja dia enggan, apalagi harus bersentuhan langsung. Keseriusannya dengan rasa takut begitu nampak dari cerita pengalaman buruknya tentang binatang Ayam. Begini Peri Kedua bercerita, “Dulu saat masih duduk di bangku sekolah dasar, saya punya pengalaman buruk dengan Ayam. Di rumah kakek, garasinya digunakan sebagai tempat ternak ayam. Di sebuah kardus yang di atasnya terdapat sebuah lampu untuk menghangatkan anak ayam, saya mencoba menyentuh anak ayam yang terlihat lucu. Kemudian, kejadian burukpun terjadi. Anak ayam tersebut mematuk tangan saya. Sejak saat itulah saya tidak lagi berani untuk mendekati ayam. Sekarang, jika saya mengunjungi rumah kakek, saya tidak lagi mau untuk memasuki garasi kakek. Bahkan saat saya datang, pintu garasi akan ditutup rapat, tidak seperti dulu dimana ayam kakek dapat berkeliaran kemana saja saat ada saya.” Itulah sepenggal pengalaman buruk Peri Kedua tentang ayam. Kini, bertambahlah tugas Pahlawan Ayam, melindungi Peri Kedua dari gangguan Ayam. Sejak tugas itu diemban oleh Pahlawan Ayam, sejak itu pula gelar Pahlawan Ayam digunakan bagi pengantar Peri Kedua saat mengunjungi desa Tassese.
***
Pembagian guru yang tidak merata di seluruh Nusantara oleh Penguasa, menjadikan keresahan yang mendalam bagi anak-anak Tassese (sebenarnya sedang mempertegas kembali cerita di atas). Kemudian penguasa menentukan anak-anak mana yang pantas melanjutkan cita-cita menurut standar yang ada di kepala penguasa. Nah, standar ini tidak diimbangi dengan pengadaan guru untuk anak-anak di desa. Guru lebih banyak dimiliki oleh anak-anak kota. Ini pula yang sempat membuat resah Kristiono dan teman-temannya, dari kerajaan lain. Beberapa tahun lalu, Kritiono melakukan yang namanya Gugatan Warga Negara (citizen lawsuit) terhadap pelaksanaan ujian bagi seluruh anak-anak nusantara, dengan standar penguasa sebagai patokan kelulusannya. Watak keras penguasa untuk tetap melakukan ujian cukup membuat kecewa banyak anak-anak. Tahun 2008 dan 2009, pemaksaan kehendak penguasa ini berwujud dengan dilaksanakannya “ujian paksa” (yang tidak dikehendaki murid dan guru karena merasa perlakuan pemerinth terhadap mereka belum adil dalam hal distribusi sumberdaya guru, infrastruktur, menejemen pengelolaan serta akses informasi dan buku).
Tujuan awal Pahlawan Ayam, Peri-peri Pengetahuan serta Guru-guru adalah untuk membantu anak-anak desa Tassese untuk keluar dari keresahannya. Keresahan dalam menghadapi standarisasi kecerdasan penguasa. Setelah kejadian pelarangan melakukan ujian diterapkan, hadir masalah baru. Apakah para Guru akan tetap dengan semangat lamanya untuk menutupi keresahan yang telah hilang sebelum mereka menghilangkan keresahan itu? Apakah anak-anak desa Tassese tidak pantas menerima pengetahuan dari Guru-guru yang dibawa oleh Pahlawan Ayam dan teman-temannya? Berita kemenangan Kristiono dalam melawan penguasa adalah kabar baik sekaligus kabar buruk, yang semoga tidak benar-benar menjadi buruk.
-Agung Prabowo-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar